Sabtu, 04 Mei 2013

SENYUM MELATI


Aku tak habis pikir, kenapa orang tuaku memberi nama melati. Ku ingat dulu sewaktu masih SMP, ibuku pernah bilang kenapa dia memilih nama melati untukku. “ dulu pas ibu ngandung kamu, ibu melihat banyak sekali bunga melati di jalanan, indah sekali, seakan mereka tersenyum sama ibu.” Kalimat itu masih ku ingat sampai ku menjadi seorang mahasiswa seperti sekarang. Aneh. Rasanya tersenyum itu adalah bagian tersulit dalam hidupku. Tersenyum sering, tapi itu hanya dipaksakan agar tidak terlihat sombong dimata teman2 kampus.

“gorengannya lima ribu ya mba...”

Lamunanku terpecah oleh suara pelanggan. “iya mbak” kataku kemudian langsung membungkus pesanannya. Tiap pagi sebelum kuliah ku sempatkan menjual gorengan di dekat kampus. Dan sorenya aku mengajar di bimbel. Dan ada beberapa kerja sambilan dadakan lainnya. Semua ku lakukan demi mendapatkan uang, agar aku bisa menyelesaikan kuliahku. Aku dulu tak seperti ini. Keluargaku cukup kaya di desaku. Bisnis ayahku di luar kota sangat maju. Ibuku dan keenam anaknya, termasuk aku yg merupakan anak ke empatnya. Sangat menukmati kemewahan yg dimiliki keluargaku. Namun sekarang, semua hilang tak tersisa. Rumah yg aku dan adikku tempati ketika aku pulang dari kuliahku di jogja, rumah itu juga sudah tak lagi milik kami. 

Aku menyesal, dulu aku lebih percaya ibuku dari pada ayahku. Ibu selalu menjelekan ayah di depan anak-anaknya. Dan kami, sebagai anaknya sangat marah dan memusuhi ayah. Kami hendak melabrak ayah, tapi untungnya tidak jadi. Kalau kami jadi melakukan hal tersebut. Mungkin sekarang kakak, aku, dan kedua adeku tak di beri tambahan uang darinya. Ibuku sangat keterlaluan. Ayah membanting tulang mencari uang. Dia ternyata selingkuh dengan tetangganya sendiri. Sungguh biadab. Ayahku sendiri yg melihatnya dikamar ketika dia diam2 pulang hendak ngasih kejutan ke kami semua. Ayah sangat terpukul. Dia pun kembali lagi keluar kota, ku dengar dia menikah lagi. 

Herannya. Setelah ayah dan ibu cerai. Ibuku tak jera ditinggal ayah. Dia semakin menggila. Ku dengar dari tanteku dia punya pacar, pacarnya masih muda. Dia sering pergi bersama teman2nya yg terlihat sangat berpakaian glamaur. Kami diam saja. Karena ibu keras kepala dan selalu marah jika kami berkomentar. “tau apa kamu anak kecil!” dia selalu berkata seperti itu. Aku pasrah saja. Aku lebih memilih di jogja saja. Menyelesaikan kuliahku entah bagaimana caranya. Aku bersyukur pula, karena prestasiku di SMA dulu, guruku turut membiayai kuliahku. 

Sesekali aku menjenguk kedua adikku di rumah. Dua bulan sekali ku sempatkan pulang ke kampung halaman. Karena hanya adikku yg berada di rumah. Kedua kakakku sudah berumah tangga, dan kakak ketigaku kuliah di jogja pula. Dia di Universitas Ahmad dahlan sedangkan aku kuliah di universitas negeri yogyakarta. Biaya kami sangat banyak. Kami sama2 membanting tulang. Karena sudah terlanjur kita kuliah di jogja saat keluargaku masih jaya. Kini kami benar2 berjuang menyelesaikannya sendiri.

“mbak mel, toko dan rumah makan kita sudah dijual sama ibu. Kita sudah tak punya apa2 lagi mba” gigi adikku yg masih SMA itu memelukku dan mulai terisak.
“terus sekarang ibu dimana gi?” tanyaku.
“gigi nggak tau ibu dimana mbak, sudah seminggu ibu nggak pulang.”
“apah???!” aku teriak. Seperti ada petir yg menyambar. Beban semakin terasa berat. Namun aku tak boleh menangis. Air mataku sudah abis, dan percuma air mataku keluar hanya utk ibu yg tak bertanggung jawab seperti dia.  Aku menghembuskan nafas panjang, terasa berat. “puput dimana sekarang gi?”
“puput di rumahnya tante dila mbak, aku dan puput disuruh disana. Biar ada yg ngrawat katanya. Tapi aku kalo siang di rumah saja mbak.”
Jarak rumahku dan tanteku cukup jauh. Aku terharu melihat adikku yg demikian.
“ya sudah, orang kayak ibu nggak usah dipikirin lagi. Kita tak butuh orang spt dia di keluarga kita. Mbak mau kekamar dulu, lelah rasanya perjalanan jogja-cilacap duduk saja di kereta.”
“iya mbak” adikku membawakan tasku kedalam kamar.

Ayah hanya sekali menjenguk kita sejak perceraiannya dengan ibu. Namun aku bersyukur, dia masih mengirimi kita uang utk biaya kami berempat yg masih menuntut ilmu. Meski aku tak sepenuhnya, maka dari itu aku ekstra membanting tulang membiayai kuliahku di jogja. Terkadang juga mengurus kak galang yg mulai sakit-sakitan. Jadi aku harus tetap bersemangat dan jangan sampai waktuku terbuang dengan tidak menghasilkan apa2.

“assalamualaikum mas.” Aku menelfon mas agit, ingin sekali berbagi bebanku padanya. Dia pacarku. “Sudah dua tahun aku dengannya. Tapi sejak aku jarang pulang, komunikasi kami sedikit terganggu.
“walaikumsalam, siapa ya?” tanyanya spt tdk mngenalku.
“ini melati mas, nomorku udah dremove ya?”
“oh kamu. Ngapain kamu hubungi aku lagi? Senang2 saja sana d jogja sama orang2 kaya.” Katanya ketus.
“kok kamu bilang begitu mas?”
“aku sudah terlanjur sakit hati sama ibumu. Dia bilang kalo aku yg miskin ini tak pantas nikahin kamu. Kamu di jogja sudah punya pacar yg orang kaya. Jadi kupikir buat apa hubungin kamu lagi. Oia sebulan lagi aku nikah. Sudah dulu ya”
Tut....tut...tut....
Telfon terputus. Aku masih tak percaya mas agit bisa bilang seperti itu. Dia bilang menikah? Ah ternyata ibuku adalah biang keladinya. Sekarang tiada lagi pelipur lara. Semua terasa kosong.

###

“itu siapa yg menggedor pintu kerasa sekali gi?” tanyaku saat aku dan gigi memasak di dapur.
“biarin mbak, jangan dibuka. Itu petugas bank. Ternyata hutang ibu di bank sangat banyak. Ibu ditipu pacarnya itu. Jaminannya rumah ini dan motor yg di pake kak galang. Mereka mau menyitanya?”
Aku hanya menghembuskan nafas lagi, yg lagi2 bgtu berat. Mencoba utk tdk kaget. Karena mungkin ada apa lagi sesudah ini. Aku hanya pasrah dengan yg diatas.

“berarti kak galang sudah tak megang motor kalo dia pulang besok yah? Padahal dia mau KKN dan perlu motor.” Aku berusaha tetap tegar dihadapan adikku. Aku tak mau dia merasakan beban berat ini begitu dalam.

Kulihat dari balik kaca, petugas bank sudah pulang. Lega. Tiba2 terdengar suara motor besar, kak galang pulang. Aku membukakan pintu.

“kamu pulang mas?” sapaku kemudian menyalaminya. Kami pun duduk di ruaang tamu.
“iya mel. Sepertinya kakak tak ikut KKN besok.” Kulihat mas galang begitu pucat.
“mas galang sakit?”
“oh tidak mel, mas sudah sehat sekarang. Buktinya sampai di rumah dengan selamat” dia mencoba tersenyum menutupi sesuau.
“terus kenapa nggak ikut KKN? Pokoknya harus ikut, jangan ditunda2 mas. Kasian ayah yg biayai kita. Jadi kita harus lulus cepat mas”
“aku tak bisa membayar biaya KKN mel”
“apah mas? Ayah tak mengirimimu uang KKN?”
“bukan mel, dia mengirimi mas uang. Tapi sayang nya uang itu utk biaya pengobatan mas. Ginjal mas bermasalah.”
“ ya ampun mas....” aku merangkul kak galang. Mencoba utk tdk menangis. Apa yg harus aku perbuat.

###

Aku sudah kembali ke jogja. Sebenarnya masih ingin dirumah. Kasiang adik bungsuku tak pernah ada yg mengajarinya belajar. Nilai sekolahnya sangat jelek. Padahal kakak2nya termasuk yg masuk ranking 3 besar d kelas. Tapi ini kewajiban. Aku harus lulus cepat. Kemudian kerja membiayai adik2ku.

“melati...” nana memanggilku yg masih termenung.
“iiyya na? Apa?”
“itu cepet maju ke panggung. Karya ilmiahmu juara satu?”
“beneran na?” aku menangis terharu. Ini adalah rizki dari Allah. Mendapat 3 juta sudah sangat bersyukur dibanding penghasilan tiap pagi jualan gorengan. Aku langsung cepat2 mnghubungi mas galang, dy harus segera membayar uang KKN. Awalnya  tak setuju. Tapi kuyakinkan bahwa aku mennag lomba karya tulis illmiah. Akhirnya dia pun setuju mmakai uang itu.

Sedikit demi sedikit, aku bisa memenuhi kebutuhanku dengan mas galang. Aku rela bekerja keras asalkan kakak dan adikku bisa tersenyum senang.  Karena kebahagiaanku adalah mereka. Bulan depan aku harus pulang, gigi merahasiakannya. Entah ada apa. Aku jangan kaget, sepertinya ada salah satu aset keluarga yg terjual oleh ibu lagi.

###

Surpraise!!!
Guntingan kertas menghujani badanku. Tiupan terompet terdengar keras di telingaku. “selamat ulang tahun mba mel”. Puput memeluk tubuhku yg semakin tinggi darinya. Aku baru tersadar, bahwa hari ini adalah ulang tahunku. Ayah, ibu tiriku, gigi, mas galang bergiliran memeluk dan memberi ucapan selamat padaku. Ada satu di ruang tamu itu yg masih duduk tertunduk, kulihat ayah menghampirinya, kemudian menggandengngya berjalan menujuku.

“ayah merestui kalian berdua,” kata ayah tersenyum, lalu menyatukan tanganku dg tangannya dalam satu genggaman. Kulihat lelaki itu terisak, hendak berlutut padaku. Namun segera ku tahan utk berdiri.
“maafkan aku mel, ternyata dia meninggalkanku dengan orang lain. Ternyata kamu lah yg terbaik mel, ayahmu sudah menjelaskan semuanya.” Dia semakin terisak.
aku mencoba menahan tangisku. “ayah merestui kita mas,”. Aku langsung menubruk tubuh mas agit. 

Kerinduanku tlah terobati. Tiap manusia pernah melakukan kesalahan, namun mereka berhak mendapatkan kesempatan kedua. Aku memeluknya, dia pun juga. Seisi ruangan hanya tersenyum melihat kita. Aku pun juga tersenyum lega. Tiada lagi terasa beban berat yg biasa menhimpit. 

Itulah senyum pertama yg benar2 ikhlas dr hati. Tiada keterpaksaan. Kini  ku tahu bahwa senyum itu begitu nikmat. Mengalahkan beban dan nestapa. Dan ibu, maafkan jika aku tlah melupakanmu... aku pun berharap kamu bisa tersenyum lepas seperti sekarang ini...